YOGYAKARTA – Program Studi Magister Manajemen Bencana (MMB) kembali menyelenggarakan Kuliah Lapangan/Ekskursi Lapangan. Kegiatan akademik yang berlangsung selama 3 hari ini dirancang sebagai wadah rekonstruksi teori di ruang kelas dengan realitas bentang alam serta tata kelola bencana konkrit di lapangan. Rute ekskursi tahun ini dimulai dari wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Tengah, hingga Jawa Timur.
Adapun lokasi kunjungan dalam ekskursi ini antara lain Museum Gunungapi Merapi, Situs Candi Losari, Candi Ngawen, Kali Sileng, Jejak Rawa Purba Borobudur, ITF Bawuran Bantul, Tugu Peringatan Gempa Bantul 2006, Gumuk Pasir Parangkusumo, Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Parangtritis, Museum Karst Indonesia, Banyu Anget Tirto Husodo Pacitan, Kawasan Konservasi Mangrove Watumejo, serta Waduk Gajah Mungkur Wonogiri.
Membaca Mitigasi Kultural dan Vulkanisme di Lereng Merapi - Magelang
Kegiatan Ekskursi ini diawali dengan mengunjungi Museum Gunungapi Merapi (MGM) di Sleman. Di sini, mahasiswa MMB dapat mempelajari tentang sejarah erupsi gunung api, mempelajari evolusi sistem peringatan dini (early warning system), serta pemetaan Kawasan Rawan Bencana.
Orientasi bergeser ke arah barat menuju Situs Candi Losari dan Candi Ngawen di Magelang. Dalam kunjungan ini memberikan pemahaman bahwa situs budaya di daerah rawan bencana memerlukan jenis manajemen risiko yang spesifik. Mahasiswa dapat menganalisis bagaimana strategi pelestarian struktur batu candi dari ancaman bencana hidrometeorologi serta aktivitas vulkanik.
Selanjutnya, rombongan menelusuri Kali Sileng untuk mengamati dinamika transportasi sedimen material Merapi, sebelum melanjutkan analisis ke kawasan Jejak Rawa Purba Borobudur. Observasi di Kawasan ini memberikan wawasan mengenai sejarah Lingkungan rawa purba yang telah mengalami sedimentasi vulkanik. Dalam hal ini, mahasiswa dapat memahami struktur tanah dalam manajemen risiko bencana, dimana area bekas danau mempunyai karakteristik geoteknik khusus yang memengaruhi ketahanan bangunan terhadap guncangan tektonik dan stabilitas Lingkungan.
Refleksi Tektonik dan Geoteknologi Lingkungan di Bantul
Memasuki wilayah Kabupaten Bantul, fokus studi beralih pada rekayasa lingkungan dan mitigasi bencana tektonik. Mahasiswa mengunjungi Intermediate Treatment Facility (ITF) Bawuran, sebuah pusat pengelolaan sampah terpadu. Kunjungan ini bertujuan untuk mempelajari aplikasi geoteknologi lingkungan, manajemen limbah perkotaan yang berkelanjutan, serta pencegahan pencemaran lindi (leachate) terhadap air tanah.
Selanjutnya rombongan melaksanakan kunjungan di Tugu Peringatan Gempa Bantul 2006 di simpang rute sesar aktif. Di lokasi ini, mahasiswa MMB melakukan kilas balik terhadap salah satu bencana tektonik yang paling berdampak di wilayah Yogyakarta.
Resiliensi Pesisir Selatan, Gumuk Pasir, dan Konservasi
Perjalanan berlanjut ke kawasan pesisir Selatan Yogyakarta. Rombongan singgah di Gumuk Pasir Parangkusumo, aspek geologi lingkungan, mahasiswa mempelajari fungsi krusial gumuk pasir sebagai benteng alami (barrier) yang mampu meredam hantaman energi gelombang tsunami dan mencegah intrusi air laut ke daratan.
Penguatan kapasitas masyarakat dipelajari secara mendalam saat mahasiswa menyambangi Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Parangtritis. Di sini, mahasiswa berdialog langsung dengan para relawan lokal mengenai bagaimana membangun ketangguhan masyarakat pesisir menghadapi ancaman gempa bumi megathrust dan tsunami.
Menelusuri Eksotisme Karst dan Tata Kelola Pesisir Pacitan
Rombongan bergerak menuju Kabupaten Wonogiri untuk mengunjungi Museum Karst Indonesia di Pracimantoro. Dari tempat ini, mahasiswa dapat belajar mengenai karakteristik Lingkungan karst serta potensi dan risiko yang ditimbulkannya.
Rute kemudian menembus perbatasan Jawa Timur menuju Kabupaten Pacitan. Mahasiswa meninjau Banyu Anget Tirto Husodo, sebuah objek wisata pemandian air panas alami. Dari tempat ini, mahasiswa dapat menganalisis panas bumi (geothermal) sebagai indikasi sisa aktivitas magmatik purba di jalur Pegunungan Selatan.
Kegiatan Ekskursi ini juga berkunjung ke BPBD Pacitan, dari kunjungan ini mahasiswa MMB memperoleh penjelasan mengenai karakteristik ancaman bencana yang dihadapi Kabupaten Pacitan, seperti gempa bumi, tsunami, tanah longsor, banjir, dan keringan. Tak hanya itu, BPBD Pacitan juga memaparkan berbagai program pengurangan risiko bencana yang melibatkan masyarakat sebagai bagian upaya membangun ketangguhan daerah.
Tak kalah penting, kunjungan juga dilakukan ke Kawasan Konservasi Mangrove Watumejo. Mahasiswa melakukan analisis ekosistem pesisir dan melihat langsung bagaimana penanaman mangrove menjadi strategi mitigasi berbasis alam (nature-based solutions) yang efektif untuk mereduksi abrasi, menahan laju intrusi air laut, sekaligus menjaga keanekaragaman hayati pantai.
Kuliah lapangan ini ditutup secara komprehensif dengan meninjau Waduk Gajah Mungkur di Wonogiri. Sebagai salah satu infrastruktur hidrolik terbesar di Pulau Jawa, mahasiswa MMB mempelajari fungsi vital waduk dalam manajemen bencana. Fokus pembelajaran diarahkan pada sistem pengendalian banjir (flood control) bagi wilayah hilir Sungai Bengawan Solo serta manajemen alokasi air sebagai langkah mitigasi bencana kekeringan panjang.
https://www.detik.com/jatim/wisata/d-8543029/banyu-anget-pacitan-dari-objek-wisata-favorit-misteri-penyebab-panas-air#google_vignette